My (almost) Baby Blues

Baby blues.

Jauh sebelum saya hamil, bahkan sebelum saya menikah, saya pernah membaca buku tentang Brooke Shields yang mengalami baby blues usai melahirkan. Dia membenci bayi kecilnya sendiri, yang terlahir dengan upaya inseminasi buatan, atas keinginannya. Dia benci mendengar tangisannya, dia membenci suara tertawanya, dia membenci harus menyusuinya, dan bahkan pernah mencoba untuk bunuh diri bersama bayinya dengan cara menabrakkan mobil ke tembok.

That’s how baby blues syndrome changed her into a crazy mother. Satu hal yang saat itu saya pikir, “Gimana bisa benci sama anak sendiri? Siapa yang bisa membenci makhluk kecil yang lucu, terlebih lahir setelah perjuangan mendapatkan kesempatan untuk mengandung? Nggak masuk akal.”

Katanya, baby blues muncul ketika kita kekurangan perhatian. Semua perhatian tertuju pada manusia baru yang hanya bisa tidur, menangis, dan menyusu. Tidak ada yang memerhatikan ibu baru yang letih setelah melahirkan dan masih harus merawat bayinya sampai terjaga semalaman. Tidak ada yang memerhatikan ibu baru yang masih ingin tidur sementara bayinya sudah kembali menagih susu dengan menangis sekencang-kencangnya.

Saat itu saya berpikir, “Ah, mudah-mudahan nggak gitu, deh. Amit-amit.”

Walau akhirnya, saya pun HAMPIR mengalaminya. Nyaris. Continue reading »

A Package from Heaven

originally written on January 11, 2016

**

I never thought that Heaven could have a delivery service and sent a beautiful package to my door. Saya baru menyadarinya sekarang; setelah tahu kalau Surga telah mengirimkan paket berupa bayi kecil yang cantik dan kini sudah pintar memanggil saya dengan manja. Bayi kecil bernama Rumi, yang hampir delapan bulan lalu telah membuat definisi bahagia saya menjadi berbeda. Happiness means having her in my arms. Bahagia itu sesederhana memandang wajah bulatnya ketika tertidur dan mendengar suara kecilnya saat tertawa. Bahagia itu rupanya tidak perlu punya uang banyak, mobil-mobil yang terparkir di garasi mobil, rumah bertingkat dengan kolam renang, atau sering melancong keluar negeri. Cukup dengan menggendong erat Rumi dan menatapnya pulas usai menyusu; that’s my friend, my ultimate happiness.

I remember the day I found two stripes in my pregnancy test pack. It was September 14, 2014. Hari Minggu pagi. Surga semacam memberikan surat elektronik berisi pemberitahuan kalau sebuah paket tengah dalam proses pengiriman. Saya diminta untuk menunggu dengan sabar, lebih dari 32 minggu, sampai paket itu sampai dengan selamat. Di hari Minggu yang masih sangat dini itu, saya menangis, hampir terkulai di kamar mandi. Never in my life I felt so happy. Hanya membaca notification email saja hati saya sudah bahagia begini, apalagi ketika paket itu datang. I couldn’t feel my feet. I was that happy.

Then life happened. Continue reading »

Andai Saja

Ketika sedang menunggu kantuk seperti saat ini, ketika acara televisi sedang kehilangan daya tariknya dan suami sedang bersosialisasi dengan teman-teman komunitasnya, di saat sedang sendiri di atas tempat tidur tanpa bicara, selalu saja ada yang bermain-main di dalam benak saya.

Dan malam ini, yang melintas di dalam benak saya adalah tentang mami. Tentang papi. Tentang mereka-reka apa yang akan terjadi jika mereka masih ada dan mengetahui kalau sebentar lagi cucu kelima mereka akan terlahir di dunia. Cucu kelima dari putri bungsu mereka yang sejak remaja selalu menjadi troubled teenager karena sering melawan. Cucu yang akan terlahir sebentar lagi dari rahim saya. Cucu yang tidak akan pernah mereka lihat, gendong, peluk, dan sayangi karena mereka sudah berpindah alamat ke Surga.

Saya pun mulai menjelajah alam imajinasi. Berandai-andai. Menyusun scene demi scene, menyiapkan skenario, seperti menciptakan sebuah film fiksi seandainya saja mereka masih ada di sini. Continue reading »

Anak Pintarnya Mama

Surabaya, 7 Mei 2015

Hey, Kiddo.

Sudah hampir pukul sepuluh malam dan mata mama masih belum juga terpejam. Ini lepas dari kebiasaan mama yang selalu tidur awal sejak kamu berada di dalam perut mama. Biasanya, pukul delapan mama sudah mengantuk dan ingin meringkuk di atas kasur karena kecapekan kerja sejak pagi sampai sore. Tapi sejak mama memutuskan untuk mengambil cuti melahirkan lebih cepat dari rencana, mama masih bisa menikmati siaran televisi sampai lebih larut, juga merasakan gerakanmu lebih lama lagi.

You know that you’re more active when it hits 10 PM, right? Apa kamu bakat begadang seperti papa-mu, Sayang? Atau memang seperti yang mama baca, kalau janin baru akan aktif bergerak ketika ibunya sedang santai atau tertidur? Apapun itu, kapanpun gerakan tubuhmu yang mengguncang-guncang perut mama dan membuat tonjolan-tonjolan di sana, mama tidak keberatan. Every time you move your little body, I know that you’re still down there with me. Healthy.

Continue reading »

Tick Tock!

Surabaya, 16 April 2015 


Hey, Kiddo… 

Do you hear my hearbeat? Kamu adalah orang pertama yang tahu seberapa kencang degup jantung mama saat ini, karena kamulah yang berada paling dekat di jantung mama. Karena itulah, mama yakin, kamu adalah yang pertama tahu kalau saat ini mama sedang merasa sangat deg-degan. 

Kamu tahu kenapa, Sayang? 

Mama kasih tahu, ya. Karena minggu ini usiamu sudah 35 minggu di dalam perut mama. Perjalanan kita sudah hampir mendekati garis akhir, dimana segala perjuangan ini berakhir dan mama memperoleh hadiah terhebat sepanjang masa. Kamu. 

Kalau perjalanan mengandungmu diumpamakan seperti perlombaan lari marathon yang panjang, kamu adalah hadiah utama yang sudah menanti mama di ujung garis finish. Seperti pelari lainnya, di antara peluh yang bercucuran, kaki yang pegal, badan yang sakit semua, dan haus yang tertahankan, berhasil berdiri di garis finish adalah pencapaian yang luar biasa, terlebih memenangkan hadiah utama yang pastinya akan membuat semua pelari merasa sangat bahagia. 

You are my first prize winner

Mama telah menempuh lintasan marathon itu berbulan-bulan lamanya demi akhirnya memenangkanmu, memelukmu, dan membawamu pulang. Masih beberapa lap lagi yang tersisa sampai menuju garis finishdan mama akan terus berlari menuju ke sana, untuk memenangkan pertandingan ini dan mendapatkanmu. 

Tahukah kamu, Nak, kalau tinggal beberapa minggu lagi kita akan bertemu? 

Jika semuanya normal, kita akan berjumpa lima minggu lagi. Mama akan berjuang dengan kontraksi yang kabarnya menyakitkan sampai belasan bahkan puluhan jam lamanya. Mama akan menginap di RS, mengerahkan semua kekuatan mama agar kamu tidak susah melesak ke jalan lahirmu. Saat itu, kita akan berjuang bersama-sama, Nak. Mama akan mengejan, mendorongmu. Kamu terus maju, merangsek ke depan, ya? 

Tapi jika posisimu masih sungsang, Sayang, dalam empat minggu kita sudah bertemu. Mama akan berjuang di atas meja operasi. Bius lokal dari dokter anestesi akan melumpuhkan sebagian tubuh mama agar tidak merasakan kesakitan saat pisau bedah dokter mengiris perut mama agar bisa mengeluarkanmu. Kamu akan keluar dari perut mama dalam beberapa menit saja, Sayang. Nanti, menangislah yang kencang-kencang supaya mama tahu kalau kondisi tubuhmu sempurna dan sehat, ya? Nanti, berebahlah di dada mama sebentar agar mama bisa mengecupmu; our very first kiss. 

Ah, Sayang, betapa waktu yang semakin bergerak cepat ini terkadang juga membuat mama ketakutan. Di antara rasa senang yang membuncah karena sebentar lagi kamu hadir dalam kehidupan mama dan papa, karena sebentar lagi mama tak hanya melihatmu dari hasil foto USG tapi bisa menatap wajahmu secara langsung saat terlelap usai menyusu dan mendengarkan tangis juga tawamu, ada ketakutan yang terselip di hati mama. 

I know I should not worry that much, karena apa yang mama rasakan juga kamu rasakan. Tapi ketakutan itu muncul perlahan, secara otomatis, dan terkadang melumpuhkan hati mama sampai beberapa saat, sebelum akhirnya kamu memenangkan hati mama sekali lagi. 

Mama takut mengalami pendarahan yang tidak juga berhenti seperti yang terjadi pada teman mama, juga takut tak bisa mengejan dengan baik sehingga kamu tak segera leluasa hadir secara normal, dan banyak ketakutan yang lainnya. 

Sampai kemudian papamu bilang kalau semuanya akan baik-baik saja dan rumah sakit tempat lahirmu nanti bukanlah tempat primitif, tapi dikelilingi oleh orang-orang yang ahli di bidangnya, mama merasa lega. 
Apalagi papamu mengingatkan bahwa selalu ada Gusti Allah yang menjaga kita semua dan Allah berkata bahwa Dia adalah seperti prasangka hambaNya. Jadi, berprasangka yang baik-baik saja, kata Papa. Dan setiap mengingat nasihat itu lalu membayangkan lucunya wajahmu, semua ketakutan itu mendadak lenyap. 

Thanks to your dad, thanks for your cute little tickles in my tummy, I’m letting go of all my fears. Mulai sekarang, biarlah jam berdetak,tick tock tick tock, semakin mendekat ke waktu lahirmu. Mama akan menikmati perjalanan ini sampai waktunya tiba nanti;when I finally touch the finish line and grab you, the first prize winner. 

Kita jumpa sebentar lagi, Nak. 
You be good and healthy down there…. 

** 

Mari bicara, Nak

Surabaya, 27 Maret 2015

Hey, Kiddo…

Sedang apa kamu malam ini? Mama merasakan gerakanmu, tendangan kaki dan tangan kecilmu, membuat keriuhan di dalam perut mama. Apa kamu sedang berpesta di dalam sana? Menggelinding ke sana ke mari, menonjok-nonjok gemas dinding rahim mama, atau kamu ingin bercerita sesuatu? Tentang hari-harimu di dalam sana, bergulingan, mencicipi makanan yang masuk ke dalam perut mama, mendengarkan denyut jantung mama, merasakan kegelisahan dan kegembiraan mama..

Kelak, kamu bisa melakukannya, Nak.

Mama membayangkan, suatu hari kelak, kita duduk di meja makan. Kamu bercerita tentang kegiatanmu di sekolah. Tentang teman-temanmu yang nakal, tentang teman-temanmu yang baik dan menjadi sahabatmu, tentang pelajaran yang menyebalkan, tentang apa saja. Saat kamu bercerita, mama mendengarkan celotehanmu sambil sesekali tersenyum melihat pipimu yang bersemu-semu merah karena seharian bermain di lapangan sekolah. Mama pasti akan merasa gemas dengan gaya berceritamu yang bersemangat, heboh, sampai-sampai kamu lupa kalau kamu sedang mengunyah kue-kue buatan mama khusus buatmu. Kita akan melewatkan siang itu dengan menyenangkan sampai waktunya kamu tidur karena lelah.

Continue reading »

A Letter to My Unborn Child

Surabaya, 19 Februari 2015

Hey, Kiddo.

It’s Mommy, talking to you. Mengelus perut mama, membayangkan sedang apa kamu di dalam sana, berharap waktu agar cepat berlalu dan membuat mama bisa segera memeluk, mencium, dan memanjakanmu. I love you from the first idea of having you in my belly; bahkan sebelum kamu hadir di dalam rahim Mama, segala cinta untukmu sudah bertumbuh. I love you from your first heartbeat. Saat itu, mama benar-benar percaya bahwa cinta bisa sangat tulus meski tak melibatkan kehadiran, pelukan, atau ciuman. Cinta bisa bertumbuh meski kita belum pernah bertemu. Inilah yang disebut cinta pada pandangan pertama, Nak. The first moment you are here and the closer you are to my heart, mama tahu, mama mencintaimu banyak-banyak, sampai mungkin kelak kamu akan risih karenanya. Continue reading »

What Really Matters

The baby inside my belly is now 26 cm long and 890 body weight, so my doctor said. Saya mengetahuinya ketika kunjungan rutin ke dokter kandungan, Sabtu kemarin. Kata dokter, bayinya banyak bergerak, ukurannya normal, denyut jantungnya baik.. so far, the baby is perfect. Alhamdulillah.

Sampai di rumah, saya mengambil penggaris yang ada di meja kerja suami. Mengira-ngira sudah sebesar apa bakal anak manusia yang sedang meringkuk di dalam rahim saya. 26 senti meter… Ternyata lumayan juga! Sudah besar. Dari ujung kepala sampai jempol kakinya, dia sudah cukup besar. Pantas saja saya sudah mulai kesulitan saat tidur karena tidak semua posisi terasa nyaman buat saya. Mau beranjak dari tempat tidur, berdiri dari duduk, bangkit dari sujud saat sembahyang, dan beberapa gerakan yang tadinya mudah, kini menjadi semakin berat dan terkadang sakit. Bakal anak manusia dengan berat hampir sekilo dan panjang 26 senti meter yang kini suka bergerak lincah di dalam perut rupanya cukup membuat ibunya terengah-engah dan sakit. Continue reading »

Menjadi Busur Panah

Sabtu nanti, usia kandungan saya sudah masuk 6 bulan. Perjalanan kehamilan yang akan saya tempuh semakin memendek, seiring dengan perut saya yang semakin membuncit. Di usia yang sekarang, saya sudah terengah-engah jika berjalan terlalu cepat atau lama, menaiki anak tangga dalam jumlah banyak, dan ketika berbicara terlalu cepat tanpa diselingi jeda. Continue reading »